The Honeymoon is Over
Kapan kita akan bercerai?" "Kamu ajakin saya kumpul kebo?"
Bagi Aliyah Sadie, hidup adalah sebuah komedi. Satu hari kamu berpacaran dengan A, dan keesokan harinya kamu menikah dengan B. Itu masih lucu, kan? Sekarang tambahkan kalau si B adalah tunangan kakakmu yang tiba-tiba menghilang menjelang hari pernikahan. That thing escalate from comedy to tragedy real quick.
Aliyah dan Jesse tiba-tiba harus terjebak di pernikahan yang tidak mereka inginkan. Mereka bersepakat, tidak ada cinta, tidak ada kemesraan, kecuali rasa ingin mencekik satu sama lain.
Dari ancaman sikat gigi di lubang toilet, sampai ejekan tinggi badan-Aliyah tersadar omelan paling menjengkelkan sedunia itu adalah suara yang paling ingin dia dengar.
| Author | : | Dadodado |
| Price | : | Rp 1 |
| Category | : | ROMANCE |
| Page | : | 304 halaman |
| Format | : | Soft Cover |
| Size | : | 15 X 23 |
| ISBN | : | 0 |
| Publication | : |
Siapa yang bangun pagi dan tiba-tiba berpikir: oh, aku akan menikah pagi ini! Seakan itu adalah hal paling mudah dan dapat dilakukan tanpa berpikir panjang atau semuanya akan siap dalam sekali ayunan tongkat sakti dari ibu peri. Please, yang aku, seorang Aliyah Sadie, tahu hanyalah tongkat Sun Go Kong si kera yang bisa berbicara, bukannya ibu peri. Atau tiba-tiba saja kera itu Heralih profesi menjadi ibu peri?
Pikirku sementara orang-orang di sekelilingnya menjadi lebih sibuk dari pikiranku yang melantur. Namun, bayangan kera dengan pakaian ibu peri dan tongkat segede gaban menari liar di dalam kepala hingga membuatku tertawa kecil.
Satu orang mendandani wajahku, orang lainnya mengerjakan rambut dan satu orang lagi sedang memperbaiki gaun berwarna putih yang jelas bukan ukuranku. Terlalu kecil untuk tubuhku yang...errr berisi. Di ujung kamar hotel ini, dekat dengan jendela besar yang mempertontonkan ibu kota di pagi hari yang sangat megah, ibu tengah sesenggukan sementara ayahku-yang berwajah merah padam-berjalan ke sana ke mari dengan ponsel di tangan kanan. Meneriakkan sesuatu yang tidak dapat ditangkap olehku. Bukan karena suaranya kecil, justru suara ayah menggelegar hingga si makeup artist semakin panik di setiap makian yang keluar, hanya saja aku menutup seluruh indraku. Mematikan seluruhnya dengan total hingga yang tersisa hanyalah mata yang menatap cermin di hadapanku.
Tubuhku dibalut dengan kimono satin yang bertuliskan bride to be.
Kimono berwarna pink gonjreng yang jauh dari seleraku. Terlalu norak dan terlalu menarik perhatian. Wajahku tidak lagi pucat, warna-warna menghiasi wajah yang biasanya hanya dipulas dengan lipgloss. Rambut ikal mengembang yang menjadi mahkota kepalaku kini disisir rapi ke belakang. Klimis. Lalu dicepol di bagian bawahnya. Aku dapat melihat rambut yang selalu berantakan itu membuat susah si hair stylist yang baru saja dapat bernapas lega setelah hampir dua jam berkutat dengan kepalaku.
"Kamu cari dia sampai dapat!" Satu teriakan dari Ferry, ayahku, lolos dan menghancurkan barikade yang aku pasang semenjak mendengar kalimat sakti dari ibu pagi tadi.
"Kamu cari dia sampai dapat!" Satu teriakan dari Ferry, ayahku, lolos dan menghancurkan barikade yang aku pasang semenjak mendengar kalimat sakti dari ibu pagi tadi.
"Kakakmu pergi dan kita nggak bisa menanggung malu sekarang," kata Vania, ibuku, sambil berurai air mata. Tangan tuanya yang dihiasi berlian entah berapa karat itu gemetar. Mulanya aku mengira karena beban berlian yang menumpuk di sana, ternyata karena surat yang dipegang dan ditunjukkannya kepadaku.
Aku harus pergi. Aku nggak bisa menikah sekarang.
Tawa pertamaku keluar di pagi hari saat semua orang panik hingga membuatnya menjadi satu-satunya objek yang dipandang. Aku tidak peduli karena fokusnya masih pada tulisan tangan Andini yang sangat rapi, bahkan ketika hendak kabur di hari pernikahan. Mau tidak mau aku berpikir seberapa lama kakakku itu menuliskan surat ini? Atau seberapa lama rencana ini sudah terlintas di dalam kepala cantiknya itu?
Aku berada di kamar Andini bersama ibu, ayah serta adikku yang masih SD, Aries. Gaun pengantin melekat di tubuh patung yang sengaja dibawa untuk keperluan dokumentasi. Di sebelahnya ada sepatu hak tinggi yang berwarna senada. Semuanya indah tetapi sayangnya kakakku tidak ada di sana untuk menjadi pengantin yang berbahagia.
RECOMMENDED FOR YOU Explore More