My First Summer, Wanju
New Release

My First Summer, Wanju

14-16 tahun
Synopsis

Son Yeol-mae kehilangan segalanya. Uang, keluarga, sahabat, bahkan suaranya. Terlalu berat untuk seorang pengisi suara seperti dirinya.

Ia lantas bergegas ke Wanju,
desa asal Su-mi—senior sekaligus teman sekamarnya—demi mendapatkan kembali apa yang menjadi miliknya.

Meski pencarian berakhir tanpa hasil, ibu
Su-mi meminta Yeol-mae tetap tinggal, karena Yeol-mae tak punya tempat lain untuk pulang.

Wanju,
Akankah hanya menjadi tempat singgah,
Atau justru memberinya arti kata rumah?


Author : Kim Keumhee
Price : Rp 95,000
Category : LITERATURE
Page : 216 halaman
Format : Soft Cover
Size : 13.5 X 20
ISBN : 9786230426094
Publication :

Orang pertama yang ditirukan oleh Son Yeol-mae adalah Stanley Ipkiss. Dia adalah tokoh utama dalam film The Mask yang diperankan oleh Jim Carrey. Ipkiss digambarkan sebagai seorang pria yang berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda ketika mengenakan topeng kayu antik. Kalau mau, dia
bisa digolongkan sebagai semacam pahlawan, tetapi dengan wajahnya yang tertutup lapisan tebal krim mentega hijau itu, dia justru membawa kekacauan seperti tornado, dan membuat kenyataan menjadi berantakan. Dunia yang kita kenal berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Karena itu, kebenaran hadir dengan cara yang benar-benar berbeda. Ketika The Mask dirilis dalam bentuk video, kepopulerannya bahkan melampaui saat pemutaran filmnya di bioskop. Son Yeol-mae, putri bungsu pemilik toko video Genesis di Boryeong tumbuh menjadi pencinta film karena lingkungannya. Dia masih mengingat dengan jelas pemandangan saat satu rak di toko mereka dipenuhi kaset video The Mask. Kotak kaset yang sedang dipinjam diletakkan terbalik sebagai tanda “sedang disewa”. Banyak orang yang datang untuk menyewa kaset film itu merasa kecewa karena melihat semua kasetnya sudah habis. Orang-orang yang tidak mengembalikan kaset tepat waktu adalah sumber masalah bagi toko video Genesis. Ibu Son Yeol-mae biasanya akan menelepon para penyewa satu per satu sampai lelah, lalu menyerahkannya kepada putra sulungnya. Putra sulung itu meneruskan ke adik laki-lakinya yang kemudian melemparkannya lagi kepada kakak perempuan pertama. Dan akhirnya, tugas itu jatuh ke tangan si bungsu alias Son
Yeol-mae sendiri. Kakak-kakaknya yang sedang melewati masa pubertas lebih memilih menulis surat wasiat daripada harus menelepon orang dewasa yang mungkin akan memarahi mereka. Lagi pula mereka hampir tidak pernah keluar kamar. Jadi, satu-satunya orang yang bisa menanggung tugas itu hanyalah Son Yeol-mae yang berusia 11 tahun, yang belum merasakan pahitnya masa puber dan masih cukup ramah untuk menghadapi siapa pun.
Yeol-mae kecil (Dengan nada manja yang tidak seperti anak-anak) Halo, sudah makan, kan? Ini dari Genesis, tolong kembalikan kaset video kami, ya.
Terdengar jawaban dari seberang bahwa sekarang dia sedang sibuk dan bertanya bukankah cukup membayar denda keterlambatan saja. Yeol-mae kecil Sekarang masalahnya bukan soal uang atau denda keterlambatan. Ada orang yang sangat menantikan kaset video itu. Jadi, katanya kalau belum dikembalikan, dia akan datang sendiri untuk mengambilnya. Kalau begitu kan bisa sekalian saling sapa antarwarga, biar orang dewasa saja yang menyelesaikan urusannya. Beliau pelanggan baru, tapi wajahnya kelihatan ramah, kok. Suara di seberang sana bersikeras berkata, “Kalau memang
sebegitu ingin menonton, kenapa tidak menonton di bioskop saat filmnya tayang?” Yeol-mae kecil (Berbicara kepada pelanggan di sebelahnya)
Katanya, waktu filmnya tayang di bioskop, kenapa tidak langsung menonton saja? Oh begitu, ya…. (Kembali berbicara di telepon) Katanya waktu
itu tidak sempat nonton karena ada urusan pribadi. Soalnya beliau sekolah di universitas ternama. Sepuluh tahun katanya belajar di sana. (Menoleh ke
pelanggan sebelah untuk memastikan) Dua belas tahun malah, dia baru lulus sekarang dan ingin menonton film itu segera. Orangnya terlihat sangat ramah. Kakek Son Yeol-mae juga menunjukkan ketertarikan pada film The Mask. Tidak ada yang tahu bagian mana dari film itu yang menarik hati pria 80 tahun tersebut. Biasanya dia hanya duduk di depan toko, mengantuk sambil berjemur di antara celah sempit antara poster-poster film yang menutupi jendela. Namun, saat film The Mask diputar sebagai bahan promosi karena baru dirilis, pandangan matanya terpaku pada layar. Bahkan saat kaset sudah selesai berputar (terdengar bunyi khas pita yang berhenti dan diputar ulang) lalu menampilkan adegan yang sama lagi, perhatian kakek Yeol-mae tetap tak teralihkan. Lelaki yang lahir pada masa penjajahan Jepang, melewati masa kemerdekaan dan perang, dan kini menjadi saksi hidup sejarah Korea itu tetap menatap layar dengan penuh minat. Suatu hari, sambil menunjuk ke arah layar, dia bertanya kepada cucunya, Yeol-mae. Kakek Sekarang dia ngomong apa sih bergumam tidak jelas begitu? Dia juga akan bertanya seperti ini. Kakek Astaga, itu makhluk apa, ya? Monster atau alien?
Di layar, Jim Carrey berwajah hijau tampak tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih. Saking putihnya, kalau dilihat dengan standar masa kini, orang mungkin akan berpikir laminasi giginya gagal total. Sebab giginya tampak sangat artifisial, seperti potongan balok. Pertanyaan kakeknya terlalu sulit dijawab oleh Son Yeol-mae kecil. Sosok itu bukan monster atau alien, itu hanyalah “sesuatu”. Namun, karena Yeol-mae sangat menyayangi kakeknya—dan seperti yang telah disebutkan, dia belum memasuki masa pubertas— Yeol-mae memutuskan untuk mencoba menjelaskan alih-alih hanya berkata, “Aku tidak tahu.” Kakeknya dulu adalah pekerja beton yang membangun banyak rumah di Boryeong. Namun, dia tidak terlalu bisa membaca Hangeul, apalagi membaca teks terjemahan film yang berganti cepat di setiap adegan. Maka sejak hari itu, Son Yeol-mae membacakan teks terjemahan film dengan suara keras. Yeol-mae kecil (Dengan semangat, tapi cara bicaranya agak kaku untuk disebut dialog) Aku sangat senang, belum pernah aku merasa sebaik ini sebelumnya. Akan tetapi, seiring teks yang terus dibacakan, kakeknya sering lupa alur cerita sebelumnya atau bahkan tertidur, sehingga Yeol-mae harus mengulanginya lagi. Hal itu berlangsung sepanjang musim panas.

Kim Keumhee
View Profil

RECOMMENDED FOR YOU Explore More