Suspect In My Sight
Kamera DSLR Citra hilang.
Lima penghuni, lima alibi, satu kecurigaan besar.
Demi membuktikan dirinya tak bersalah, Tara menyelidiki satu per satu penghuni… termasuk Sebastian, si cowok sok keren yang lebih suka menyalahkan orang daripada mencari solusi.
Namun siapa sangka, proses mencari kamera justru membuat dia makin sering berhadapan dengan Sebastian yang menyebalkan tapi anehnya bikin penasaran.
Apakah Sebastian pencuri kamera itu?
Atau justru orang yang diam-diam
mencuri hatinya?
| Author | : | Bella Pustika |
| Price | : | Rp 120,000 |
| Category | : | ROMANCE |
| Page | : | 360 halaman |
| Format | : | Soft Cover |
| Size | : | 13 X 19 |
| ISBN | : | 9786230424922 |
| Publication | : |
Kamera DSLR milik Citra (28), salah satu penghuni kontrakkan elit lantai 2 khusus perempuan, menghilang secara misterius dari meja di kamarnya yang terkunci. Kelima penghuni lain menuduh satu sama lain mencuri kamera Citra. Namun, tuduhan paling serius datang dari SEBASTIAN (28). Ia menuduh TARA(24), yang tinggal di kamar sebelah Citra, sebagai pencurinya.
Sejak awal hubungan Tara dan Bastian, si penghuni baru, memang tidak akur. Tuduhan Bastian pada Tara membuat keduanya makin sering bertikai, terlebih karena Bastian kurang suka bergaul dengan penghuni lain. Menurut Bastian, dirinyalah satu-satunya manusia normal di rumah itu. Selain Citra, Sebastian, dan Tara, juga ada Bima (17), siswa SMA kelas 12 selaku putra pemilik rumah, serta Ben (34) pria bijak nan pekerja keras. Di antara penghuni lain, Tara malah ditunjuk menjadi penyintas kasus pencuri kamera Citra. Awalnya Tara menolak tapi akhirnya ia terima juga.
Peran detektif gadungan pun Tara lakoni. Sepulang kerja atau hari libur, Tara menginterogasi penghuni rumah satu per satu. Ia menemukan kejanggalan dari alibi Bima. Bukan cuma itu, sikap aneh Citra, pemilik kamera yang hilang juga mencurigakan. Di samping itu, tingkah Ben yang diam-diam menghasut Citra mengenai Tara tak kalah mengherankan. Tara makin termotivasi mencari dalang pencurian kamera Citra untuk membuktikan dirinya tak bersalah. Belakangan Tara juga membaca novel misteri. Penulis novel misteri dan thriller yang ia suka baru-baru ini adalah Ezra Ramiro. Ezra ialah penulis asal Indonesia misterius yang tak diketahui identitasnya.
Bastian sedang mengerjakan projek sampingan. Narasumber projeknya tiba-tiba mengundurkan diri. Salah satu alternatif narasumber untuk projeknya adalah Tara. Sebastian pun berupaya mengakrabkan diri dengan Tara. Tapi Tara dan Bastian tak bisa berdamai dan selalu berdebat. Contohnya ketika seluruh penghuni jalan-jalan ke mall bersama. Saat itu Bastian menolak naik mobil kumbang mini milik Tara. Bastian beralasan kaki panjangnya sakit bila ditekuk. Bastian dan Tara juga berdebat kala mereka tersesat mencari jalan pulang ke kontrakan hingga mengalami kecelakaan sampai pintu mobil Tara penyok. Bahkan mereka juga ribut saat Bastian mengantarkan Tara ke kantor karena mobil perempuan itu tidak bisa digunakan.
Suatu hari, teman Sebastian, Roy, cowok berpakaian necis datang ke rumah. Tara melihat Roy menyembunyikan banyak majalah berkover pria-pria sixpack di bawah karpet bagasi mobilnya. Tara berpikir Roy cowok homoseksual setelah ia menyadari penampilan “melambai” Roy. Tak hanya itu, Tara juga curiga Roy dan Sebastian adalah pasangan gay tatkala ia tak sengaja membuka HP Bastian dan melihat pesan dari Roy bertaburan kata “sayang”, serta dua kiriman foto laki-laki tengah menempelkan bibir.
Investigasi kasus pencurian kamera Citra terhambat ketika Tara menyiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan magisternya. Tapi kelakuan penghuni kontrakkan tambah aneh. Bima, yang harusnya belajar persiapan UTBK dan SBMPTN malah membuka bimbingan belajar untuk anak-anak komplek perumahan. Citra, yang sebelumnya tak pernah absen menanyakan perkembangan penyelidikan kamera, anehnya sudah jarang menanyakan hal itu pada Tara dan lebih sering menghabiskan waktu dengan pacarnya. Ben juga sibuk perjalanan bisnis dan sering bertandang ke lokasi konstruksi rumah yang baru dibangunnya. Di antara semua, yang paling mencurigakan adalah Sebastian.
Sejak Sebastian keluar dari rumah sakit terkena Demam Berdarah, cowok itu tiba-tiba jadi baik pada Tara, seperti membelikan bubur, menyemangatinya belajar untuk persiapan tes tertulis, dan menggantikan Tara mengerjakan shift bebersih rumah. Bahkan mengajak Tara kencan, ke acara meet and greet penulis misterius Ezra Ramiro kesukaan Tara. Di acara itu Tara terkejut saat tahu ternyata Sebastian adalah penulis Ezra Ramiro.
Untuk merayakan kesuksesan meet and greet sekaligus memindahkan barang dari kontrakkan karena Bastian akan pindah dari kontrakkan kembali ke rumah orangtuanya, Bastian mengajak teman-temannya termasuk Roy dan Tara datang ke rumah. Betapa kagetnya Tara saat ia melihat Roy dan Bastian diam-diam berciuman bibir. Perasaan Tara bergejolak. Ia pun menghindari Bastian. Bastian bergegas meluruskan pada Tara bahwa ia sendiri baru tahu Roy gay. Namun tidak dengan Sebastian. Laki-laki itu mengaku bahwa sebetulnya ia tengah berusaha mendekati Tara. Tara kaget saat Bastian mengajak Tara kencan lagi. Tara menjawab ia akan mempertimbangkan.
Setibanya Tara dari ujian tertulis magister dan kembali ke Jakarta, suasana di kontrakan berubah. Citra mengumumkan kabar bahwa ia akan menikah dengan pacarnya, Bima diterima masuk ke PTN pilihan pertamanya, Ben akan pindah ke rumah yang baru ia beli dan bahkan meminang kekasihnya, sedangkan Bastian sudah pindah dari kontrakkan kembali ke rumah orang tuanya. Namun meski pindah, Bastian, yang dulunya “ansos” dengan lingkungan kontrakkan kini malah berpacaran dengan Tara. Sedangkan Tara juga akan pergi dari rumah ini karena diterima masuk PTN tujuan sekolah magisternya.
Kebersamaan mereka di kontrakkan akan segera berakhir, namun belum ada satupun misteri yang terungkap. Untungnya Tara dan Bastian sudah mengetahui siapa pelaku pencuri kamera. Pasangan baru jadi itu pun menyusun jebakan untuk pencurinya.
Cerita berakhir di acara pernikahan Citra. Semua misteri terkuak di acara nikahan itu. Semua mengakui dosa mereka. Diawali oleh Bima dan Ben merusak kamera Citra. Berikut adalah kronologi kasus hilangnya kamera Citra : Hari Hilangnya Kamera, Siang hari – Bima, yang kebetulan sekolah cepat, pulang ke rumah bersamaan dengan Ben yang juga baru tiba. Begitu masuk rumah mereka menemukan kamera Citra dan tas kamera tergeletak di meja makan. Ben ingat Citra mengatakan kameranya bermasalah. Ia bermaksud mencoba membetulkannya. Ben yang duduk di sofa menyuruh Bima mengambilkan kamera Citra. Namun dalam perjalanan mengantar, Bima jatuh tersandung dan kamera Citra rusak terbanting hingga badan kameranya pecah. Bima panik. Ia ingin membelikan Citra kamera baru tapi ia sadar ia akan ujian dan tidak mungkin mencari uang untuk ganti rugi. Ben menyuruh Bima untuk tak merisaukan itu dan meminjamkan uangnya. Tapi Bima menolak. Keduanya memutuskan menyembunyikan hal itu dari Citra untuk sementara, tapi Bima tidak kunjung berani mengatakannya.
Setelah Ben dan Bima mengakui kesalahan mereka, Citra mengejutkan semua orang dengan mengabarkan kamera DSLR miliknya sebetulnya sudah rusak sedari awal hilang. Citra sendiri baru tahu beberapa minggu lalu dari pacarnya (kini suami) yang memberikan kamera bekas itu padanya. Tara dan Bastian, yang menyusun rencana agar Ben dan Bima mengaku, juga kaget. Apalagi Bima yang sudah terlanjur membelikan Citra kamera baru.
Namun, plot twist akan berlanjut. Ketika Tara dan Bastian—semua sudah mengetahui mereka berpacaran—baru saja meninggalkan acara pernikahan, Ben, Bima, dan Citra merasa ada yang janggal. Citra mengatakan bahwa kamera dan tas kameranya ia simpan di kamarnya, tapi bagaimana bisa Ben dan Bima menemukan kamera itu di meja makan? Begitu sadar telah terkecoh, mereka langsung berteriak memanggil pelaku yang sebenarnya, “TARAAA!”
Tara lah biang kerok dari pencurian ini. Berikut kronologi sebenarnya kasus hilangnya kamera Citra : Hari Hilangnya Kamera, Siang hari – Sebelum Ben dan Bima pulang, Tara sudah lebih dulu pulang ke rumah. Ia mengambil dokumennya yang tertinggal di kamarnya di sela-sela jam makan siang kantor. Ia teringat Citra mengambil potret bagus dengan kameranya ketika mereka berlibur ke Lembang beberapa hari sebelum hari kamera hilang. Karena ia sudah tahu di mana Citra biasanya menyembunyikan kunci kamarnya, yaitu di bawah pot tumbuhan (Hubungan Citra dan Tara dekat sampai pada level saling memberitahu rahasia masing-masing), Tara pun masuk ke kamar Citra dan mengambil kamera Citra, kemudian membawanya turun ke lantai satu. Sambil makan siang di meja makan, Tara mencoba mengotak-atik kamera Citra yang sudah rusak. Mengira habis baterai, Tara men- charger kamera itu di dekat TV. Saat itu rupanya Bastian, yang mengaku tidak ada di rumah, baru keluar dari kamarnya. Bastian melihat Tara membelakanginya, sedang mengotak-atik sesuatu ia tak yakin apa. Tara tak menyadari kehadiran Bastian. Bastian pun keluar rumah tanpa disadari Tara. Ketika Tara sadar jam makan siang kantor sudah hampir habis, ia buru-buru pergi keluar rumah, meninggalkan kamera Citra dan tasnya di meja makan. Kronologi pun berlanjut ketika Bima dan Ben pulang ke rumah.
Kisah diakhiri dengan Bastian dan Tara di dalam mobil, membahas pengakuan dosa Tara karena mengambil kamera Citra tanpa ijin dan tidak menaruh kembali ke tempatnya. Ben, Citra, dan Bima langsung meributkan kelakuan Tara itu dan rusuh di grup WA kontrakkan, mereka mengomentari Tara yang ternyata adalah dalang di balik hilangnya kamera Citra.
RECOMMENDED FOR YOU Explore More