Jalan Panjang untuk di Cintai
Di masa perang, mencintai bisa menjadi bentuk perlawanan paling berbahaya. Tahun 1943 di kampung Kulitan kota S, Avifah kehilangan banyak hal: ayahnya, masa depannya, dan hak untuk memilih hidupnya sendiri. Dia dicintai, tapi oleh orang yang salah dan pada waktu yang salah.
Ali mencintainya dengan keberanian, sedangkan Baruji mencintainya dengan kesabaran. Saat pengorbanan dua remaja laki-laki itu menuntut harga paling mahal, Avifah bimbang, siapa yang berhak dicintai? Dan siapa yang harus belajar bertahan hidup setelah cinta itu pergi?
| Author | : | Nara Lahmusi |
| Price | : | Rp 1 |
| Category | : | ROMANCE |
| Page | : | 272 halaman |
| Format | : | Soft Cover |
| Size | : | 13 X 19 |
| ISBN | : | 0 |
| Publication | : |
Kota S, 1943, Ali (16 tahun) dan Baruji (17 tahun) adalah dua sahabat akrab lintas kasta. Ali, anak Den Baguse, konglomerat kampung Kulitan, kota S yang tergolong priayi dan sangat dihormati. Sedangkan Baruji adalah yatim yang bebas dan bekerja untuk Den Baguse. Namun, mereka sudah seperti saudara.
Saat kali pertama Jepang berlabuh di kota S, Ali dan Baruji diwajibkan menjadi Seinendan. Selama menjadi Seinendan, Ali selalu mencari masalah dan berakhir mendapat hukuman dari tentara Nippon. Mulai dari menolak seikerei, malas menyanyikan lagu Kimigayo, hingga membolos bersama Baruji. Satu hal yang membuatnya semangat adalah sepulang sekolah dia akan berjumpa dengan Avifah (16 tahun), gadis pintar dan berani yang sudah mencuri hatinya. Bahkan, dia berjanji kelak akan menikahi Avifah. Dengan bantuan Baruji yang sudah dulu kenal dan dekat dengan Avifah, Ali terus mendekati gadis itu. Tanpa dia tahu, Baruji sesungguhnya juga sangat mencintai Avifah.
Kabar bahwa Jepang menginginkan gadis-gadis muda kampung Kulitan untuk dijadikan Jugun Ianfu mulai santer terdengar. Ali dan Baruji pun memiliki rencana menyelamatkan Avifah. Dengan bantuan Den Baguse, mereka mengungsikan Avifah dan gadis kampung Kulitan lain ke tempat terpencil di daerah kabupaten D. Namun, karena Den Baguse tahu bahwa anak sematawayangnya ingin menikahi gadis miskin dan berderajat rendah seperti Avifah, dia murka dan dengan gelap mata, mengantarkan Avifah bukan ke kabupaten D melainkan ke pusat Jugun Ianfu di kota T. Atas bantuan Baruji dan Ali, mereka pun mengejar Avifah dengan dokar ke kota T. Namun, mereka terlambat. Den Baguse telah lebih dulu membawa Avifah.
Di dalam keputusasaan Ali dan Baruji, ternyata Den Baguse tak benar-benar tega menyerahkan Avifah ke tangan Jepang. Namun demikian, restu Den Baguse tetap tidak dia berikan. Bahkan, Ali juga tidak dianggap anak lagi. Fakta bahwa Ali hanya anak angkat dibongkar Baruji yang ternyata tahu siapa Ali sebenarnya. Ali pun memutuskan untuk tinggal di desa B bersama kusir dokarnya, walau diam-diam Den Baguse selalu mengirimkan beras dan uang. Di desa B, Ali ingin menjadi guru agama sebagai syarat untuk menikahi Avifah. Sedangkan, Baruji kembali ke kota S untuk menjadi anggota BKR sesuai mimpinya seperti mendiang bapaknya. Sedangkan, Avifah ikut menjadi pekerja tukang jahit kenalan Den Baguse selama bersembunyi di desa B.
Pada 17 Agustus 1945, kemerdekaan yang seharusnya menjadi berita bahagia, menjadi kesedihan Ali karena Den Baguse sekarat. Baruji juga menyampaikan bahwa Den Baguse ingin bertemu dengan Ali dan Avifah untuk yang terakhir kali. Sebelum kematiannya, Den Baguse akhirnya merestui mereka dan pernikahan dilaksanakan pagi itu juga di depan Den Baguse yang hampir meregang nyawa. Kebahagiaan dalam kesedihan pun dirasakan Avifah dan Ali sebagai pengantin baru. Hingga mereka menunda malam-malam pertama mereka. Namun, ketika mereka telah siap untuk melakukan malam pertama, tiba-tiba Baruji menggedor pintu panik tengah malam di rumahnya. Kota S dalam kondisi darurat. Perang tersulut dan BKR butuh bantuan pemuda bekas Seinendan. Ali pun ikut dengan Baruji ke markas dan membantu BKR melucuti senjata Jepang. Di perang lima hari itu, Ali tertembak, dan mati. Wasiat Ali kepada Avifah dan Baruji adalah mereka berdua harus menikah sepeninggalannya.
Itulah awal kehidupan baru Avifah dan Baruji dalam rumah tangga yang dingin dan tanpa cinta. Meskipun demikian, Baruji terus berusaha mengalah dan menuruti permintaan Avifah. Dia wajib tidur di sofa dan dilarang menyentuh ataupun merayu. Namun, tanpa sepengetahuan istrinya, Baruji ternyata mendaftar menjadi guru agama seperti syarat yang diajukan Avifah untuk calon suaminya. Baruji juga membuat catatan kisah Ali, Avifah, dan dirinya di sebuah buku sebagai kenangan yang akan selalu dia simpan seumur hidup. Kesabaran Baruji itulah yang akhirnya menyentuh hati Avifah.
Satu tahun menikah, akhirnya Avifah bisa membuka hati. Dan mereka akhirnya bisa merayakan malam pertama setelah 365 malam-malam penuh penantian.romar
RECOMMENDED FOR YOU Explore More