Pelarian Dua Arah
Ini kisah tentang Bia dan Saga, dua anak manusia yang masing-masing berlari menjauh dari dunia yang penuh tuntutan dan larangan. Bia dengan cita-citanya yang dikubur paksa oleh pacar dan ibunya sendiri, Saga dengan tuntutan pacarnya untuk memikirkan masa depan dan karier.
Lewat gedung pertunjukan dan panggung teater, keduanya sepakat berhenti sejenak untuk menemukan diri mereka sendiri di sana.
Namun, tidak mudah bagi Bia untuk keluar begitu saja dari toxic relationship dengan pacarnya. Karena Gora—pacarnya, pun adalah laki-laki yang penuh luka dan trauma oleh orangtuanya sendiri, lewat kehadiran ibu Bia, Gora merasa mendapatkan kasih dari seorang ibu. Bia menemui dilema. Haruskah ia memilih dirinya sendiri untuk teater dan Saga. Atau mengalah dengan ibu dan pacarnya sekaligus mengubur cita-citanya dalam-dalam?
| Author | : | Olen Saddha |
| Price | : | Rp 85,000 |
| Category | : | ROMANCE |
| Page | : | 184 halaman |
| Format | : | Soft Cover |
| Size | : | 13 X 19 |
| ISBN | : | 9786230424663 |
| Publication | : |
Jakarta, 2024.
Ruangan itu gelap. Sebuah musik instrumental perpaduan
bunyi piano dan biola mengalun lembut. Di satu sudut,
berdiri seorang perempuan mengenakan jubah panjang
kuning keemasan. Rambutnya yang sepanjang bahu terurai
cantik. Tampilannya semakin lengkap saat ia memakai mahkota
silver dengan hiasan permata merah muda. Cahaya
kekuningan yang tersorot dari sebuah lampu membuat penampilannya
semakin menakjubkan. Saat tempo musik melambat,
ia bersiap mengucap sepenggal puisi dari penyair
favoritnya.
“Jika kau dapat bertemu dengan jati dirimu meski hanya
sekali, maka rahasia dari segala rahasia akan terbuka bagimu.
Wajah dari Yang Maha Tersembunyi, yang ada di luar
alam semesta ini, akan nampak pada cermin persepsimu.” Ia
berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Jalaluddin Rumi.”
Perempuan itu berniat melanjutkan kalimatnya, tapi wajahnya
yang semula tenang seketika berubah tegang saat seseorang
meneriakkan namanya.
“Bia!”
Bia segera melakukan hal-hal ini dengan tempo super
cepat: mematikan pengeras suara yang sejak tadi memutar
musik, melepas ikatan jubah yang melingkar di leher, melepas
mahkota, mematikan lampu senter, lalu terakhir membuka
gorden jendela. Jelas sudah ia sedang berada di mana:
kamarnya sendiri. Satu-satunya ruang yang menurutnya bisa
digunakan untuk menunjukkan dirinya yang sesungguhnya.
“Bia!” Suara itu terdengar lagi dengan volume yang lebih
tinggi.
Bia memasukkan mahkota ke sebuah kotak lalu menyimpannya
ke dalam lemari. Sebenarnya mahkota itu adalah
mahkota mainan yang biasa dipakai oleh anak-anak, tapi
itu adalah benda miliknya yang paling berharga. Pemberian
ayahnya yang terakhir kali ia lihat tiga belas tahun lalu.
Ayah Bia menghadiahkan mahkota itu saat ulang tahunnya
yang keenam. Malam harinya, di depan keluarga besar
ia memakai mahkota itu dan membaca puisi untuk pertama
kali. Puisi yang ia baca berisi tentang rasa cinta kepada ayah
dan ibu. Puisi itu buatan ayahnya yang diajarkan kepada Bia
hingga ia hafal. Melihat lucu dan pintarnya Bia membaca
puisi kala itu, semua anggota keluarga tampak senang dan
memberikan tepuk tangan. Sejak itulah ia tahu apa cita-cita
yang kelak ingin ia wujudkan: menjadi aktris.
RECOMMENDED FOR YOU Explore More