Masih Banyak yang Belum Sempat
Coming Soon

Masih Banyak yang Belum Sempat

14-16 tahun
Synopsis

Apa jadinya ketika editor perfeksionis
jatuh cinta dengan penulis yang sekarat?

Masa kecil Kaidar membuatnya
sulit percaya dengan cinta.

Setidaknya, sampai ia bertemu Senara. Gadis yang tetap tersenyum lebar meski nafasnya terus berlomba dengan waktu. Gadis yang membuatnya kembali percaya bahwa masih banyak hal dalam hidup yang layak diperjuangkan.

Tanpa sadar, Kaidar melakukan hal yang
paling ia takutkan, jatuh cinta.
Namun, bagaimana jika orang yang akhirnya membuatmu percaya pada cinta justru
ditakdirkan untuk pergi lebih dulu?


Author : Tessia
Price : Rp 1
Category : ROMANCE
Page : 264 halaman
Format : Soft Cover
Size : 13 X 19
ISBN : 0
Publication :

Jakarta,2020
Belakangan, Senara memilih hadir tepat waktu. Tidak terlalu pagi, tidak juga sampai terlambat. Ia tidak ingin teman sekelas atau orang-orang yang ia temui punya kesempatan untuk menyadari perubahan tubuhnya dan bahkan mempertanyakannya.

Sen, kamu sakit?

Kayaknya kamu makin kurusan?

Kamu baik-baik aja, Sen?

… dan ratusan pertanyaan-pertanyaan lain, yang sebenarnya sederhana saja, tetapi terlalu sulit dan melelahkan untuk dijawab.

Pintu kelas terasa begitu berat saat Senara mendorong dengan tangan kurusnya. Di dalam, beberapa temannya sudah duduk menempati posisi favorit masing-masing. Termasuk Senara yang kini berjalan mendekat ke tempat duduk dekat jendela, bangku pojok paling belakang, tempat favoritnya sejak awal semester. Alasannya sederhana, masih terasa cukup dekat untuk mendengar penjelasan dosen, tetapi juga cukup jauh untuk menjadi pusat perhatian.

Ia menghela napas pelan sebelum menyandarkan tubuh ke kursi. Tubuhnya kian terasa cepat lelah. Bahkan untuk sekadar bangun pagi dan berangkat kuliah, mengangkat tubuh mungilnya sendiri terasa seperti mengangkat beban yang begitu berat. Setelah berusaha tidur semalaman pun, bukan kesegaran yang ia dapatkan, melainkan garis kehitaman tipis dan kantong mata yang justru kian tebal.

Bangku-bangku perlahan terisi penuh, tetapi kelas belum juga dimulai. Meski sudah berusaha setepat waktu mungkin, ternyata tetap saja ada yang terlambat. Kelas yang seharusnya sudah diisi oleh suara dosen, kini masih dipenuhi obrolan, tawa kecil, bunyi kursi digeser, dan keluhan tentang tugas yang belum selesai.

“Ra, nanti sore jadi kerja kelompok, kan?” tanya teman yang duduk di sebelahnya. Senara menoleh sekilas lalu mengangguk kecil. “Jadi.” Tangannya sibuk membuat garis-garis kecil di ujung buku catatan, menggambar sesuatu tanpa bentuk yang jelas.

“Habis kelas mau ke kantin?” tanyanya lagi.

“Lihat nanti, deh.”

Jawaban-jawabannya singkat, dengan harapan tak ada pertanyaan lebih lanjut. Untungnya, harapannya segera terkabul karena tepat pada pukul delapan lewat lima, pintu kelas terbuka lagi. Dosen mata kuliah Penulisan Kreatif akhirnya masuk, tetapi ia tidak sendiri.

“Eh, eh. Siapa, tuh? Dosen tamu, ya?” bisik-bisik di antara mereka. Beberapa mahasiswa mulai merapikan posisi duduk. Sisanya terlihat sedikit lebih semangat dari biasanya.

“Pagi semuanya,” sapa dosen mereka sambil berdiri di depan kelas. “Maaf, Bapak sedikit terlambat. Karena pagi ini ada tamu di kelas ini. Perkenalkan, ini Pak Kaidar,” ujarnya sambil menengok ke rekan di sebelahnya, “beliau adalah editor dari Penerbit Senja. Hari ini, beliau akan mengisi kelas.”

“Halo, pagi semuanya,” sapa dosen tamu itu.

“Pagi, Pak Kaidar,” jawab hampir seisi kelas. Suasana kelas mendadak lebih hidup. Beberapa mahasiswa langsung saling menyikut, sebagian lain mulai berbisik kecil. Bukan hanya karena kehadiran dosen tamu di depan, terlebih lagi, Penerbit Senja bukanlah nama yang asing bagi mereka, apalagi di kalangan mahasiswa yang diam-diam bercita-cita menulis dan menerbitkan buku.

“Pak, Bapak editor novel Satu Langit yang Sama itu, ya?” tanya salah satu mahasiswa yang duduk di barisan paling depan.

“Hah? Novel mega best seller itu?” Riuh suasana kian terdengar, tak menyangka bahwa sosok yang mereka temui adalah seseorang yang mungkin tak pernah terlihat, tetapi punya peran besar dalam sebuah karya.

Laki-laki di depan kelas itu tertawa kecil, tampak sedikit salah tingkah karena menerima antusiasme mendadak.

“Aduh, berlebihan itu. Kayak artis aja,” katanya, masih dengan senyumnya yang belum juga sirna dari wajahnya. Kegaduhan makin menjadi-jadi, membuat Senara yang duduk paling pojok pun akhirnya mengangkat wajah yang sedari tadi ia tundukkan.

Dosen tamu itu nyatanya memang menarik perhatian. Untuk sebuah kelas Penulisan Kreatif yang biasanya didominasi oleh penampilan santai dan kasual, ia justru memakai baju batik. Untungnya, baju yang terkesan formal itu dipadupadankan dengan celana jeans dan sepatu kets, membuatnya terlihat bisa menyatu dengan seisi kelas. Dari fisiknya yang masih bugar dan wajahnya yang segar, mungkin usianya masih di bawah 30-an.

Kehadiran dosen itu membuat semangat perlahan menjalar ke dalam tubuh Senara, hingga tak sadar, ia pun menyunggingkan senyum kecil.

“Oke, tenang, tenang,” katanya, mencuri atensi dan seketika membuat kelas terdiam. “Saya nggak akan bikin kalian stres pagi-pagi.” Beberapa mahasiswa tertawa. “Karena jujur aja,” lanjutnya, “saya juga dulu paling males kalau ada dosen yang ngomongnya kayak seminar motivasi.” Tawa pun kembali pecah.

“Hari ini, pastinya, kita akan ngobrol soal menulis,” kata Kaidar, “tapi saya nggak bakal bahas teori karena pasti itu udah diajarin sama dosen kalian. Jadi, mungkin kita akan lebih banyak tanya jawab dan langsung praktik nulis aja. Tapi, sebelumnya… saya punya pertanyaan buat kalian.” Ia berhenti sejenak, memperhatikan setiap kepala yang terarah padanya, maupun yang mengarah entah ke mana. “Apa bagian yang paling susah dari menulis?”

Beberapa suara mulai menyuarakan keresahan mereka.

“Jelas cari ide lah, Pak!”

“Mmm… bikin ending nggak, sih?”

“Titik koma, Pak! Hehehe!”

Kaidar mendengarkan setiap jawaban dan mengangguk perlahan. “Oke, semuanya valid. Cari ide, nentuin ending, teknis penulisan titik-koma, kapital, baku-nggak baku… semuanya memang susah dan punya tantangan masing-masing. Tapi dari pengalaman saya membaca ratusan bahkan ribuan naskah yang masuk ke saya, yang paling susah dari menulis adalah…” Kaidar memberi sedikit penekanan dalam jeda itu, “… jujur. Yang paling susah adalah jujur. Tulisan itu bukan soal seindah apa diksinya. Bukan juga soal seberapa rumit kata-katanya. Buat saya, tulisan bagus itu adalah tulisan yang bikin pembacanya ikut merasakan sesuatu.” Langkahnya kian dekat dengan meja kursi mahasiswa. “Kalau ada yang selesai baca terus bilang, ‘kok rasanya kayak gue banget, ya?’ Berarti tulisan itu sudah berhasil.”

Senara yang mendengar penjelasan Kaidar sambil mencorat-coret asal langsung berhenti dan meletakkan pulpennya.

“Ada orang yang sebenarnya pengin nangis, tapi nggak bisa. Ada yang pengin marah, tapi nggak tahu ke siapa. Ada yang punya banyak hal di kepala, tapi nggak punya tempat buat ngomong.” Kaidar mengambil spidol, lalu menulis sesuatu di papan.

Tuliskan hal yang ada dalam pikiran, tapi tidak pernah kamu ucapkan.

“Tugasnya sederhana,” katanya sambil mengetuk papan tulis. “tapi saya yakin nggak semua orang bisa.” Suaranya yang semula terdengar segar dan menyenangkan, tiba-tiba terasa begitu berat. Dosen tamu itu kini seolah masuk dalam mode yang lain—mode serius. “Karena seperti yang saya bilang tadi, yang paling susah dalam menulis itu adalah… jujur.”

Beberapa mahasiswa langsung mengeluh. “Jadi, maksudnya kita harus buka rahasia gitu, Pak?”

“Bisa ya, bisa tidak. Kalau kalian mau jujur soal hidup, silakan. Kalau nggak, ya nggak apa-apa. Karena, kalian tetap bisa jujur dalam sesuatu yang kalian imajinasikan.”

“Ah, Bapak. Katanya nggak mau bikin stres pagi-pagi….” Seorang mahasiswa menimpali, disusul seru persetujuan dari yang lain dalam bentuk tertawaan.

Kaidar tak bisa menahan senyumnya saat mendengar keluhan itu. “Tenang. Untuk tugas ini, kalian nggak harus menuliskan nama.”

Sontak suasana kelas seperti dikepung dengungan lebah. Mereka berpikir, berdiskusi, atau frustrasi sendiri soal apa yang akan mereka tuliskan. Namun, tidak untuk Senara. Saat teman-temannya masih kebingungan, tangannya langsung meraih pulpen dan dengan percaya diri menuliskan namanya: Sena. Toh, ia pikir, kelas ini hanyalah kelas singkat bersama dosen asing yang mungkin takkan ia temui lagi di kemudian hari. Lalu entah bagaimana, satu kalimat itu muncul begitu saja.

Aku takut mati sebelum sempat hidup.

Napas dan tangannya sempat tertahan, tapi kemudian kata-katanya mengalir begitu saja. Tentang rasa takut yang tidak pernah ia ceritakan. Tentang tubuhnya yang terasa semakin asing. Tentang hari-hari ketika ia pura-pura kuat hanya supaya ibunya tidak ikut hancur. Tentang rasa lelah yang akhir-akhir ini semakin sulit dijelaskan. Dan tentang keinginan menyerah yang diam-diam tumbuh.

Ia menulis lebih cepat dari biasanya. Seolah kalau berhenti sebentar saja, ia akan kehilangan keberanian. Setiap kata yang ada di kepalanya mengalir dengan begitu lancar. Tangannya bergerak tanpa hambatan, tanpa sedikit pun jeda. Mungkin gadis itu sendiri pun tak tahu bagian mana dalam tulisannya yang hanya imajinasi belaka dan mana yang benar-benar nyata. Yang ia pikirkan hanya satu: menulis sejujur-jujurnya. Hingga saat ia sampai pada akhir tulisannya, ia menghentakkan pulpennya saat membuat titik.

Dan entah keyakinan apa yang ia miliki saat ini, saat teman-temannya yang lain masih berkutat dalam tulisan atau bahkan masih kesulitan mencari ide, Senara justru menjadi orang pertama yang maju dan mengumpulkan tugasnya.
“Terima kasih,” kata Kaidar sambil menerima lembar tugasnya, lantas tersenyum kecil saat mengetahui tugas itu dikerjakan tanpa menyembunyikan nama penulisnya. “Sena….” ujarnya sambil membaca nama yang tertera, lantas mengalihkan pandangan ke arah gadis yang kini telah memunggunginya untuk kembali ke tempat duduknya. Nama itu pun terucap tipis, hampir tak terdengar siapa-siapa kecuali dirinya.

Namun, senyumnya perlahan sirna saat ia mulai membaca tulisan itu. Mata Kaidar yang awalnya memancarkan sinar semangat untuk memeriksa tugas sang mahasiswa, lama-kelamaan sinarnya meredup. Alisnya sesekali berkerut meski bibirnya berusaha tak menunjukkan ekspresi apa-apa.

Konsentrasinya sempat buyar saat beberapa mahasiswa satu demi satu juga mengumpulkan tugasnya. Kaidar pun menyempatkan diri untuk membaca beberapa tulisan lain sebagai pembanding sebelum memberi evaluasi dan mengakhiri kelas.

“Oke, saya sudah membaca beberapa tulisan kalian. Dan… soal ‘kejujuran’ dalam tulisan, saya rasa masih ada hal yang menjadi catatan.” Kaidar memulai sesi penilaiannya. “Bagian terpenting dari ‘jujur’ adalah kita tahu apa yang ingin kita sampaikan. Dan dari beberapa tulisan tadi, poin itu masih belum terasa. Masih ada yang terlalu berusaha menggunakan diksi indah atau terkesan rumit, sampai-sampai nggak tahu sebenarnya apa yang mau disampaikan. Walau begitu…” ia memberi jeda cukup panjang hingga membuat seisi kelas penasaran dengan kalimat lanjutannya, “ada satu tulisan yang meskipun tulisannya sederhana, tetapi kejujurannya begitu terasa.”

“Waaah, waaah….” Keriuhan sontak terdengar. “Siapa tuh, Pak?”

Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya sebelum melontarkan jawaban. “Ya nggak tahu, kan kalian nulisnya anonim. Hahaha….” Kaidar menutupi kebohongan itu dengan gelak tawa yang ikut menular hingga ke para mahasiswa. Namun, diam-diam matanya memindai di mana mahasiswa bernama Sena yang berhasil membuat tulisan ‘jujur’ itu. Akan tetapi, sebelum ia berhasil menangkap sosoknya, bel tanda kelas berakhir berbunyi.

Para mahasiswa langsung berhamburan keluar begitu Kaidar mengakhiri perkuliahan. Beberapa sibuk mengobrol sambil berjalan, sebagian lain buru-buru mengejar kelas berikutnya. Sementara di pojok, Senara masih merapikan buku dan tasnya. Ia pun berpesan kepada temannya untuk duluan saja karena ia sedang tak berminat untuk ke kantin. Gadis itu sedikit berlama-lama untuk menunggu kelas sepi dan baru keluar. Ia masih berusaha sebisa mungkin untuk tak terlalu banyak berinteraksi dengan orang-orang.

Saat tasnya sudah di pundak dan langkahnya hampir sampai pintu, sebuah suara memanggilnya pelan.

“Sena? Benar kan kamu Sena?” Kaidar sedikit memastikan dan mengingat gadis itu. “Boleh ngobrol sebentar?” lanjutnya setelah di ruangan itu benar-benar hanya tersisa mereka berdua.

Gadis itu sontak berhenti dan menoleh. Jantung Senara mendadak terasa aneh. “Iya… Pak?”

“Saya sempat baca tulisan kamu,” kata Kaidar. Sebenarnya ia ragu, takut apa yang akan ia sampaikan terkesan kelewat batas.

Refleks Senara menunduk, tiba-tiba merasa dirinya telah melakukan suatu kesalahan. Keadaan dirinya saat ini sungguh berbanding terbalik dengan saat ia mengumpulkan tugas dengan penuh keyakinan tadi. “Oh. Maaf kalau jelek,” gumamnya cepat. “Saya cuma nulis asal.”

“Justru mungkin karena asal,” jawab Kaidar sambil tersenyum kecil, “tulisan kamu lebih terasa jujur.” Ia mengangkat lembar tulisan Senara. “Tulisan kamu sederhana, pendek,” katanya pelan. “Tapi, keputusasaannya sangat terasa di tulisanmu itu. Lewat tulisan yang kamu bilang asal itu, saya malah merasa kamu lagi mengangkat beban yang berat.”

Senara diam. Tenggorokannya terasa tercekat dan kering. Ini pertama kalinya seseorang membaca dirinya sedekat itu. Sekelebat pikiran seolah mempertanyakan dirinya. Apa aku terlalu jujur lewat tulisanku?

“Orang yang menulis soal kematian biasanya justru orang yang paling ingin hidup,” kata Kaidar pelan.

Kalimat itu menyentuh sesuatu di dalam dirinya. Pelan, lembut, tapi tepat di ulu hatinya. Mata Senara mulai terasa panas. Namun entah bagaimana, bukan penyesalan karena terlalu jujur yang ia rasakan. Ia justru merasa seperti sedikit terbebas dari beban berat, seperti yang Kaidar juga katakan sebelumnya.

“Kamu capek?” lanjut Kaidar.

Senara tidak menjawab. Hanya menunduk lebih dalam.

“Kalau capek, tulis,” katanya lagi. “Kalau takut, tulis juga. Kadang tulisan itu bukan buat orang lain. Kadang kita nulis cuma buat menyelamatkan diri sendiri.”

Meski kepalanya tetap menunduk, nyatanya Senara tak bisa menyembunyikan senyum yang perlahan mulai terbentuk. Wajah yang semula tegang, kini lebih terasa jauh lebih lega.

“Hidup sering keluar dari hal-hal yang kita rencanakan, kan? Yah, saya tahu. Kalau hidup terasa kosong, coba cari satu hal kecil yang bikin kamu mau bangun lagi besok.” Kaidar menghentikan kalimatnya, lalu sembari memberikan senyumnya yang paling tulus, ia lanjut berkata, “Sena, terima kasih sudah membuat tulisan yang jujur.”

Senara tidak tahu kenapa rasanya kalimat itu terdengar seperti motivasi yang nyata. Yang ia dengar seolah bukan “terima kasih karena sudah membuat tulisan yang jujur”, melainkan “terima kasih sudah jujur”.

Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata Kaidar terus terngiang di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Senara menyadari bahwa sekeras apa pun ia memendam sakitnya dan menyembunyikan perasaannya, ternyata ia masih bisa terlihat oleh seseorang. Seseorang yang bahkan berterima kasih karena kejujurannya.

Sementara di sudut lain, Kaidar tidak pernah tahu bahwa hari itu, tanpa sengaja, ia telah menggagalkan sebuah rencana yang sudah dua bulan disimpan Senara rapat-rapat.

Tessia
View Profil

RECOMMENDED FOR YOU Explore More